Senin, 31 Juli 2017

Tarian di Labuhan Bajo, melengkapi wisata ke pulau Komodo

Labuhan Bajo (WartaMerdeka) – Festival Budaya yang baru saja digelar sejak 24-29 Juli lalu di ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Labuhan Bajo, menjadi salah satu tolok ukur baru bahwa daerah yang terkenal dengan ikon Komodo (Buaya Raksasa), ternyata mampu menarik perhatian publik atau turis baik dari dalam dan luar negeri.

Pakaian khas daerah Manggarai yang masih merupakan bagian dari gugusan Pulau Flores di sebelah Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur ini, penuh dengan corak warna-warni kain tenun mencolok serta diperagakan mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, . Mereka membuat pawai, melenggak-lenggok dalam berbagai bentuk tarian dan lomba, sehingga menjadi tontanan yang tak membosankan.

Ya, Labuhan Bajo sedang bersolek. PemdaManggarai Barat menyadari bahwa tak mungkin berharap terus-menerus dari pesona Taman Nasional Komodo (TNK) untuk meraup keuntungan dari pemasukan sektor pariwisatanya. Karena kawasan TNK sangat terbatas kapasitasnya dan justru perlu dipelihara keseimbangan ekosistemnya. TNK sejak 1977 sudah menjadi Cagar Biosfer dunia dan 1991 ditetapkan sebagai warisan alam dunia oleh Unesco (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Itu pertanda, pemeliharaan TNK yang hanya berjarak sekitar satu jam dengan kapal cepat dari Labuhan Bajo, menjadi milik dunia pula. Konsekuensinya, bila Indonesia atau Pemda Manggarai Barat “salah kelola”, dampaknya sangat berbahaya untuk citra Indonesia secara keseluruhan.

Itu sebabnya, Kementerian Pariwisata di era Presiden Jokowi sudah mencanangkan Labuhan Bajo sebagai bagian dari sepuluh Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Wakatobi, Morotai dan Labuhan Bajo), dan telah merancang srategi besar agar kawasan ini kedepannya bisa mengelola secara mandiri. Wajah Labuhan Bajo perlahan mengalami perubahan. Bandara sudah kelas internasional, sehingga penerbangan langsung ke ibukota negara (Jakarta) sudah dibuka dan bisa didarati pesawat berbadan besar. Pelabuhan kelas “Marina” pun sudah dimulai pengembangannya. Akomodasi hotel berbintang hingga home stay pun, telah tersedia.
Itu sebabnya, percepatan pembangunan kawasan wisata Labuhan Bajo tak bisa lagi ditunda. Pegelaran Festival Budaya kemarin, adalah cermin bahwa potensi budaya dan kearifan lokal di Labuhan Bajo atau Manggarai Barat juga beragam. Labuhan Bajo juga sudah dijadikan “pintu masuk” ekowisata untuk kawasan Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan.
Dalam Festival Budaya yang baru saja berlangsung, Pemda Manggarai Barat “menjual” pesona wisata tradisi, seni dan budayanya. Masyarakat dan wisatawan yang hadir bisa menikmati Permainan Caci, Mbaru Gendang Kampung Pacar Pu’u, Peralatan Musik Tradisional, Kerajinan Tenunan dan Anyaman (Songket, Jongkong Re’a), dan lain-lain.

Jadi, dalam sepekan festival budaya, masyarakat “dilupakan” tentang ikon komodo, dan “dimanjakan” dengan suguhan aneka atraksi tradisi, seni dan budaya lokal. Berbagai sanggar seni, yang melibatkan pelajar atau siswa mulai dari sekolah dasar hingga SLTA, semua turut serta.
“Dalam pengembangan wisata budaya, kami memang menggunakan dua strategi. Yaitu Insitu, dengan berpatokan pada pemangku adat. Sehingga semua kegiatan harus bermuara ke mereka sebagai tokoh adat. Mereka yang menggerakkan ke masyarakat. Kemudian ada Eksitu, ini ditujukan kepada lembaga atau komunitas yang ada di masyarakat (sanggar tari, dan lain-lain). Yang kami utamakan adalah peran dari fungsionaris atau tokoh adat ini,” jelas Theodorus Suardi, Kepala Dinas Pariwisata

Kabupaten Manggarai Barat
Dengan berperannya para tokoh adat, diharapkan ini bisa menjadi benteng atau pengimbang kekuatan tradisi, seni dan budaya lokal agar tetap memiliki kekuatan dan tidak terkucilkan dengan masuknya budaya asing. “Di kabupaten kami saja ada sekitar 440 kampung adat, yang ada fungsionaris adatnya. Mereka ini yang menjalankan ritual adat. Pemkab akan mengacu kesitu sebagai koridor untuk pengembangan budaya di sini,” tegas Theodorus lagi.

Menyambut hari Kemerdekaan RI ke-72 tahun, di daerah Liang Ndara (sekitar 30 menit dari kota Labuhan bajo), ada pentas budaya lagi (18-22/8). Liang Ndara sangat terkenal dengan tari Caci dan lebih dari 20 tari lainnya. Juga ada sajian kuliner, pembuatan gula aren, dan kopi, semuanya khas lokal.

Geliat pesona wisata Labuhan Bajo sudah terendus di Pusat. Itu sebabnya, Labuhan Bajo masuk 10 unggulan tujuan wisata dan Kemenpar membentuk Kelompok Kerja Percepatan Pembangunannya. Shana Fatina, sebagai Ketua Pokja di Labuhan Bajo, memikul tanggungjawab besar. Ia mesti membuat peta besar yang terpadu antara keinginan Pemerintah Pusat, Daerah, juga keinginan pasar wisata internasional.

“Program kami 2016-2019 terkait kebutuhan lintas sektor yang berhubungan dengan atraksi, aksesibilitas dan amenitas,” papar Shana. Tak heran, ruang gerak Shana pun meski di bawah paying Kemenpar, kadang juga harus berurusan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat karena terkait pembangunan infrastruktur kota, atau dengan Kementerian Perhubungan karena ikut memonitor perkembangan Bandara Komodo dan pelabuhannya yang harus direvitalisasi, dan lain sebagainya.

Kedepan, Labuhan Bajo akan memiliki Badan Otorita Pariwisata (BOP) tersendiri, yang kawasannya meliputi Pulau Flores secara keseluruhan. Sepuluh Kawasan Strategis Pariwisata Nasional nantinya akan memiliki BOP, di mana saat ini yang baru berjalan di Danau Toba. Bagaimana aksi BOP Labuhan Baji-Flores nantinya, kita tunggu saja (bri).
Foto: DisparMabar

0 komentar: